Kamis, 07 November 2013

Raja Cantung Terakhir


Aji Pangeran Kusumanegara

Aji Pangeran Koesoemanegara adalah seorang raja di daerah Cantung & Buntar Laut, sekarang kecamatan Kelumpang Hulu Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan.
Pangeran Koesoemanegara adalah raja Cantung dan Buntar Laut, Tanah Bumbu Kalimantan Selatan
Sepertinya masyarakat di luar Kalimantan Selatan jarang mengetahui nama Pangeran Koesoemanegara / Adji Darma . Beliau lahir di daerah Tjantoeng (Cantung)yang sekarang berubah menjadi kecamatan Kelumpang Hulu Kalimantan Selatan. Ayahnya bernama Adji Madoera/Adji Daha bin Adji Jawa bin Adji Raden bin Adji Negara (Sultan Sepuh I Alamsyah (1736-1766) bin Adji Geger (Sultan Adji Muhammad Alamsyah (1703-1726) bin Adji Anom Singa Maulana (1644-1667) bin Adji Mas Anom Indra (1607-1644) bin Adji Mas Pati Indra (1567-1607) bin Pangeran Abu Mansyur Indra Jaya (Bangsawan dari Giri tanah Jawa).
Ibunda Pangeran Koesoemanegara adalah Ratoe (Ratu) Jumantan binti Pangeran Praboenata (Raja Sampanahan).
Wilayah Tjantoeng (Cantung) dulunya masuk dalam wilayah kerajaaan "Tanah Boemboe (Tanah Bumbu)" (Kerajaan : Sampanahan, Bangkalaan, Cengaal, Manoenggoel (manunggul), Tjantoeng (Cantung), Batoe Licin (Batu Licin) dan Boentar Laoet (Buntar Laut ) [[1]]. Tanah Bumbu di Kepalai oleh Ratoe Mas (Ratu Mas) , Raja Tanah Bumbu 3 (1740-1780) binti Pangeran Mangoe (Mangu) , Raja Tanah Bumbu 2 (1700-1740) bin Pangeran Dipati Toeha (Tuha) 2 Raja Tanah Bumbu 1 (1660-1700) yang di berikan oleh Soeltan Saidoellah/Raden Kasoema Alam (Sultan Saidullah) , yang bergelar Panembahan Batoe 1 sebagai Raja Banjar ke 6 (1646-1660) dari trah Kesultanan Banjar.
Kerajaan Cantung mulai di kenal pada era Adji Jawa (1825-1841) yang sebelumnya di Aneksasi oleh Kerajaan Pasir. [[2]] Adji Jawa mengambil alih ke 6 (enam) divisi : Sampanahan, Bangkalaan, Cengaal, Manunggul, Cantung, Batoe Licin dan Buntar Laut Ketika menikahi Gusti Katapi binti Gusti Muso [[3]] dan Gusti Kamil binti Gusti Kamir.Aji Jawa mengadakan "Kontrak Politik" Pada Tanggal 25 Juli 1825 No.24 .
Adji Jawa melimpahkan kekuasaan Cantung kepada anaknya Adji Madoera / Adji Daha dari ibunya Gusti Katapi Binti Gusti Muso pada tahun 1841. Semenjak itu Adji Madoera / Adji Daha menjadi Raja Cantung pada tahun 1841-1863 menggantikan Ayahandanya (Adji Jawa). [[4]]

Adji Madoera / Aji Daha sekitar tahun 1845 juga mengambil alih "Kerajaan Buntar Laut" dari bibinya Gusti Dandai yang meninggal dunia karena tidak memiliki keturunan.Sehingga wilayah kekuasaannya menjadi Cantung dan Buntar Laut.[[5]]
Pada tanggal 10 Oktober 1862 (BT 10 Oktober 1862 No.22) Adji Madoera mengadakan "Kontrak politik" dengan Pemerintahan Hindia Belanda.
IN NAAM DES KONINGS
Adji Madoera memberikan Kekuasaan kepada Anaknya Pangeran Koesoemanegara sekitar tahun "1864". Semenjak tahun 1864 di mulailah era kepemimpinan Raja Cantung dan Buntar laut Pangeran koesoemanegara / Adji Darma. [[6]]
Pangeran Koesoemanegara / Adji Darma sangat di hormati oleh rakyatnya dan di segani oleh kawan maupun lawan.Di Dalam mengatur roda pemerintahan Pangeran Koesoemanegara di bantu oleh Datu Tingkan sebagai panglima perangnya. Pangeran Koesoemanegara / Adji Darma sering berkomunikasi dengan rakyatnya tanpa pandang bulu.beliau seorang yang taat di dalam menjalankan syariat islam tanpa menbedakan agama satu dengan lainnya. Sehingga Pangeran Koesoemanegara / Aji Darma raja Cantung dan Buntar laut sangat di cintai oleh rakyatnya.
Pangeran Koesoemanegara / Adji Darma menikah dengan Adji Oetin binti Pangeran Muda Arifbillah / Aji Samarang (Raja Tanah Boembu (Bangkalaan, Cengaal, Manunggul)) memperoleh anak : 1. Adji Putri Ambar 2. Adji Kurbah
Pada Masa itu Wilayah kerajaan Cantung dan buntar Laut di bawah Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Pangeran Koesoemanegara / Adji Darma "sangat menentang" (tidak menyukai) Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda yang di anggap merugikan Bangsa Indonesia khususnya rakyat Cantung. Kerajaan Cantung dan Buntar laut mencapai kemakmuran di era kepemimpinan Pangeran Koesoemanegara / Adji Darma sehingga membuat iri lawan-lawannya. Banyak cara yang telah di lakukan lawan-lawanya untuk mengambil "alih kekuasaan" Pangeran Koesoemanegara / Adji Darma.
Kolonial Hindia Belanda yang terkenal dengan "politik adu domba" menyusun strategi untuk menjatuhkan kekuasaan Pangeran Koesoemanegara / Adji Darma , Sehingga sekitar tahun 1890 beliau di anggap makar oleh Kolonial Hindia Belanda karena ikut membantu "Goesti Arsyad/Sultan Banjar" dalam perang kemerdekaan/perang melawan penjajahan yang pada akhirnya di internir/exiled (diasingkan) ke Batavia melalui jalan laut , lalu di teruskan ke Pelabuhan Panarukan (di bawah karesidenan Besuki) dan selanjutnya di tempatkan di Bondowoso Jawa Timur dengan pengawalan yang ketat. "(BT 30 Oktober 1901 No.46)"
Ratoe Jumantan Ibunda Pangeran Koesoemanegara ikut serta hingga ke Bondowoso Jawa Timur. Ratoe Jumantan meninggal dan di makamkan di Bondowoso bersebelahan dengan makam Pangeran Koesoemanegara / Adji Darma pada tahun 1325 H atau tahun 1904
Pangeran Koesoemanegara/ Adji Darma tutup usia pada tanggal 17 Muharam 1348 H atau 25 Juni 1929 dan di makamkan di Bondowoso Jawa Timur.
Catatan :
H. Hendri Nindyanto, SH  : keturunan ke 4 dari Pangeran Koesoemanegara / Adji Darma Bin Adji Madoera .
NB: Mohon apabila ada yang mengetahui silsilah ini mohon di perbaiki atau hub kami di dapoersosis@yahoo.com

Kerajaan Cantung



Kerajaan Cantung
Kerajaan Tjangtoeng dan Batoe Litjin atau menurut ejaan sekarang Kerajaan Cantung dan Batu Licin adalah kerajaan pecahan dari kerajaan Tanah Bumbu. Wilayah kerajaan Cantung dan Batu Licin mencakup Daerah aliran sungai Cantung dan Daerah Aliran Sungai Batulicin serta daerah sekitarnya. Penguasa pertama kerajaan ini adalah Ratu Intan I puteri Ratu Mas.[1] Ratu Mas adalah penguasa terakhir kerajaan Tanah Bumbu, yang kelak terpecah menjadi beberapa wilayah kerajaan-kerajaan kecil. Pada Tahun 1870 kerajaan Tanah Bumbu dibagi kepada anak-anak Ratu Mas yaitu Pangeran Prabu dan Ratu Intan I. Pangeran Prabu memperoleh wilayah utara (Kerajaan Bangkalaan), sedangkan wilayah selatan diberikan kepada Ratu Intan I. Pada tahun 1861? wilayah Kerajaan Batoe Litjin dan Tjangtoeng menjadi suatu wilayah pemerintahan swapraja yang dikepalai seorang bumiputera bagian dari Afdeeling Pasir en de Tanah Boemboe dalam pemerintahan kolonial Hindia Belanda di bawah kekuasaan Asisten Residen GH Dahmen yang berkedudukan di Samarinda. Pemerintah daerah swapraja tersebut dikuasakan kepada seorang kepala bumiputera yaitu Pangeran Syarif Hamid.
Batoe Litjin dan Tjangtoeng masing-masing merupakan daerah-daerah landschap dalam Afdeeling Pasir en de Tanah Boemboe menurut Staatblaad tahun 1898 no. 178.
Pada masa Republik Indonesia Serikat, wilayah ini termasuk ke dalam kesatuan kenegaraan Federasi Kalimantan Tenggara.
Sekarang wilayah swapraja ini menjadi kecamatan Hampang, Kelumpang Hulu, Batulicin dan kecamatan-kecamatan pemekarannya. Batulicin sekarang merupakan ibukota dari Tanah Bumbu.
Kepala Pemerintahan
Ratu Intan I anak Ratu Mas, menjadi Ratu Tjangtoeng I dan Batoe Litjin I (1780-1800) dan menikah dengan Sultan Anom dari Pasir (dikenal sebagai Sultan Dipati Anom Alamsyah Aji Dipati (1768-1799).
Gusti Besar binti Pangeran Prabu (1820-1830) atau (18xx-1825) sebagai Raja Bangkalaan, Sampanahan, Manunggul, Cengal, Cantung, Batulicin. Gusti Besar berkedudukan di Cengal. Cantung dan Batulicin diserahkan sepeninggal Ratu Intan. Gusti Besar menikahi Aji Raden yang bergelar Sultan Anom dari Kesultanan Pasir. Sultan Sulaiman dari Pasir menyerbu dan mengambil Cengal, Manunggul, Bangkalaan, dan Cantung, tetapi kemudian dapat direbut kembali.
Gusti Muso
Aji Jawi (1840) (putera Gusti Besar)(1825-1840): Pangeran Aji Jawi/Aji Djawa (1840-1841) sebagai Raja Bangkalaan, Sampanahan, Manunggul, Cengal, Cantung dan Batulicin. Pada mulanya Cengal adalah daerah pertama yang berhasil direbut kembali, kemudian Manunggul dan Sampanahan. Cantung diperolehnya ketika ia menikahi Gusti Katapi puteri Gusti Muso, penguasa Cantung sebelumnya yang ditunjuk ibunya. Bangkalaan diperolehnya ketika ia menikahi Gusti Kamil puteri dari Pangeran Muda (Gusti Kamir) penguasa Bangkalaan sebelumnya yang ditunjuk ibunya. Belakangan Sampanahan diserahkan kepada pamannya Pangeran Mangku (Gusti Ali) yang memiliki pewaris laki-laki bernama Gusti Hina.
Raja Aji Mandura. Aji Mandura menganeksasi Buntar Laut, sepeninggal Gusti Dandai yang tidak memiliki ahli waris.



RIWAYAT SINGKAT KERAMAT PECAH EMPAT



RIWAYAT SINGKAT KERAMAT PECAH EMPAT
Sebelum dimulai riwayat ini terlebih dahulu diterangkan bahwa yang dimaksud wilayah kerajaan Tanah Bumbu ialah yang terletak di wilayah Kambatang lima:
Pagatan, Cantung, Bangkalaan, Sampanahan dan Bakau. Yang pada waktu itu di sekelumit diantara Raja-raja terakhir kerajaan tanah bumbu.

1.         Raja pagatan bernama Arung Makarati.
2.       Raja Cantung bernama Antagiri bermakam di Banua Lawas
3.       Raja Bangkalaan bernama Pangeran Arif Billah bermakam di Bangkalaan Melayu yang diberi gelar Raja Agung Sekarang ini
4.       Raja Bakau sangat dikenal yaitu Ratu Intan
5.       Raja Sampanahan bernama Pangeran Prabu Jaya Kusuma anak oleh pangeran Prabu Mangkuna bermakam di tempat pemakaman raja-raja yaitu istana namanya.

Konon pada waktu itu kerajaan sampanahan dipimpin oleh seorang raja bernama prabu mangkuhina yang nama asli berliau tidak diketahui. Beliau bergelar mangkuhina karena ayah mangkuhina karena ayah beliau seorang raja sedang ibu beliau dari rakyat biasa (Selir) bukan dari keturunan raja (Permaisuri). Riwayat ini dimulai dengan kepergian dua orang rakyat kerajaan sampanahan yang pergi memancing dari sungai sampanahan menuju sungai sanduk. Sungai sanduk terletak di wilayah muara kersik hitam dekat kecamatan pamukan selatan/ tanjung samalankatan. Sebelum mereka memancing tiba-tiba hujan turun dengan derasnya maka mereka memutuskan untuk berteduh. Tatkala memulai mendayung perahuuntuk berteduh sayup-sayup terdengar kokok ayam jantan dari arah hulu sungai sanduk, maka keduanya segera mendayungperahu menuju arah bunyi kokok ayam tersebut, tidak beberapa lama derdayung keduanya melihat seberkas cahaya yang berda ditengah semak belukar, maka keduanya sepakat untuk mengikat tali perahu dan menuju arah cahaya tersebut setelah dekat nampakoleh keduanya bahwa cahaya itu terbit dari lampu yang beradadisebuah gubuk kecil, maka kedua rakyat kerajaan sampanahan tersebut bermaksud menemui gubuk itu untuk meminta izin agar bias untuk berteduh. Keduanya member salam dan dijawab oleh pemilik gubuk sambil dipersilahkan masuk. Setelah diteliti ternyata pemiliknya seorang laki-laki yang tinggal seorang disemak belukar hulu sungai sanduk. Sambil mempersilahkan duduk sang pemilik gubuk masuk kedapur dan sambil duduk-duduk keduanya memperhatikan sekeliling gubuk ternyata pemiliknya memelihara ternak berupa ayam, itik dan kambing. Tak berapa kemudian pemilik gubuk keluar dengan membawa dua cangkir kopi panas dan mempersilahkan keduanya untuk minum.
Syahdan sambil berbincang-bincang penghunu gubuk bertanya “dari mana asal kalian berdua dan dijawab oleh keduanya “kami dari kerajaan sampanahan”.
Penghuni gubuk bertanya lagi “ dimanakah kerajaan sampanahan itu?”
keduanya menjawab : “ sampanahan itu adalah sebuah kerajaan”.
Penghuni gubuk bertanya lagi: “siapakah nama raja kalian?”
jawab keduanya “ beliau bergelar pangeran prabu mangkuhina”.
            Ringkas cerita setelah kedua rakyat tersebut merasa cukup berteduh dan beristirahat, maka keduanya berpamitan untuk pulang, kembali kekerajaan. Sambil mengucapkan terima kasih kepada penghuni gubuk tadi dan bergegas menuju perahu di pinggiran sungai, sambil menuruni perahu keduanya menoleh kembali kearah gubuk tersebut ternyata  gubuknya sudah tidak adalagi, yang ada hanya semak belukar. Betapa kagetnya keduany rakyat kerajaan sampanahan tersebut mereka mengira penghuni gubuk tadi adalah dari makhluk halus atau dedemit lainnya. Maka keduanya segera mendayung perahu menuju muara sungai sekencang-kencangnya hingga sampai dimuara sungai. Atas kejadian tadi maka keduanya sepakat untuk pulang kekerajaan tidak jadi mencari ikan. Setelah berdayung beberapa lama dan dekat dengan kerajaan,
Maka salah seorang berkata kepada temannya,”Apabila nanti kita pulang ke rumah janganlah diantara kita menceritakan kejadian tersebut kepada siapapun. Karena apabila ketahuan oleh baginda raja maka akan sulit akibatnya. seandainya nanti kita disuruh baginda untuk  mencari orang tersebut bagaimana?”
Ia menyimpan rahasia .kata pepatah sepandai-pandai tupai meloncat akhirnya jatuh juga artinya sepandai-pandainya orang menyimpan rahasia pasti akan ketahuan juga .demikian juga dengan kedua pencari ikan tersebut.lama kelamaan antara mereka bercerita kepada keluarga di rumah sehingga menjadi rahasia rumah tangga sampai menjadi rahasia umum dan sampailah berita tersebut ketelinga baginda raja .maka baginda memerintahkan punggawa kerajaan agar menjemput dua orang pencari ikan tersebut agar segera menghadap baginda raja.
Ringkas riwayat maka keduannya menceritakan kejadian yang di alami keduannya dari diawali hujan lebat sampai kepada hilangnya gubuk di semak belukar di hulu sungai sanduk tersebut. Demi mendengar cerita kedua rakyatnya baginda raja segera memerintahkan keduannya agar menjemput orang misterius tersebut dan disuruh datang segera menghadap baginda raja maka berangkatlah kedua orang pencari ikan tersebut denagn diiringi beberapa orang punggawa kerajaan.
Ringkas riwayat sampailah mereka dimuara sungai sanduk tadi dan langsung menuju tempat dimana gubuk tersebut ditemukan, ternyata gubuk tersebut masih ada. Maka mereka segera menemukan laki-laki misterius pemilik gubuk serta menyampaikan pesan perintah baginda raja agar laki-laki tersebut segera menghadap baginda raja. Mendengar titah baginda raja tersebut maka laki-laki penghuni gubuk itu segera bersiap-siap memenuhi panggilan baginda raja.
Para pengawal kerajaan dan pencari ikan bertanya: “ bagaimana kami membawa binatang piaraan sampian ini” ?
Maka beliau menjawa  :“silahkan kalian berangkat duluan, nanti aku menyusul !” mendengar jawaban pemilik gubuk demikian maka rombongan utusan kerajaan sampanahan tersebut menjadi bingung sebab mereka tidak melihat adanya perahu satupun sekitar itu. Karena tidak berani membantah akhirnya berangkatlah rombongan utusan tersebut segera menghadap baginda raja dengan perasaan takut karean orang yang seharusnya dibawa menghadap belum juga muncul hingga sampailah mereka dihadapan baginda raja. Demi melihat bahwa para utusan tidak membawa siapa-siapa hanya mereka yang kembali pulang,
Maka baginda raja bertanya : “ dimanakah orang yang disuruh untuk dijemput ?”
Salah seorang utusan menjawab sambil menceritakan hal ikhwal orang itu bahwa beliau akan menusul. Tanpa diketahui tiba-tiba orang yang diceritakan muncul entah dari mana dan sedang berada di depan pintu istana sambil member salam kepada baginda Prabu. Baginda segera menyambut salam orang itu dan mempersilahkan masuk, akan tetapi orang tersebut tidak mau masuk, hanya berdiri diam sambil melihat-lihat sekeliling istana.
Setelah tiga kali baginda Prabu mempersilahkan masuk maka orang tersebut menyahut :” Mohon ampun baginda Raja., saya mau masuk ke istana Baginda asal satu permintaan saya dikabulkan !”
“ Baiklah !” jawab Baginda Prabu. “Apa permintaan anda ?”
Orang tersebut menjawab :” Tolong sebuah Ancak yang ada di istana Baginda disingkirkan !”
Ancak adalah sebuah tempat sesajen yang digunakan untuk pemujaa roh-roh gaib zaman dahulu mendengar jawaban orang tersebut Baginda Prabu segera memerintahkan kepada Pengawal kerajaan agar segera membakar sebuah Ancak yang ada di istana. Setelah semua Ancak-ancak itu dibakar, barulah sang tamu memasuki istana. Baginda Prabu mempersilahkan tamu tersebut untuk duduk berhadapan dangan Baginda Prabu serta dikelilingi Punggawa-punggawa istana.
Baginda Prabu bertanya : “ Siapakah nama Andika ? “ dan berasal dari mana ?”
Sang tamu menjawab :” Orang-orang menyebutku dengan sebutan Sayyid Pandan dan aku berasal dair negeri Anta-Beranta.
Baginda Raja lalu menanyakan kepada beberapa orang Pengawal yang hadir mereka sama-sama tidak ada yang tahu bahkan mendengar namanya pun baru sekarang. Maka tidak diterangkan kelanjutan cerita, langsung saja ke cerita Raja menyiapkan kamar di istana kerajaan dan mempersilahkan seorang tamu tadi untuk beristirahat dan menugaskan pelayanan khusus untuk melayani makan dan minumnya. Maka apabila sampai waktu makan, datanglah pelayan membawa makanan dan minuman langsung dipersilahkan kepada seorang tamu tadi untuk mencicipinya. Setelah diperkirakan habis waktu makan masuklah seorang pelayan ke dalam kamar beliau serta mengambil tempat beliau makan maka dilihat oleh pelayan makanan tersebut seolah-olah tidak dimakan beliau. Begitulah hal keadaanya setiap hari. Maka setelah beberapa hari beliau tianggal diistana Raja timbullah keinginan untuk menyendiri maka beliau langsung menghadap baginda raja serta memohon minta buatkan pondok untuk tempat tinggal beliau. Maka dengan permohonan itu baginda raja langsung memerintahkan rakyatnya untuk membikin sebuah tempat tinggal yang sederhana. Maka langsunglah beliau tinggal di tempat itu dan dilayani oleh pelayan khusus seperti yang masih tingal di istana. Setelah beberapa hari tinggal ditempat itu belum pernah beliau kelihatan keluar dari tempat itu. Memperhatikan keadaan yang begitu lalu baginda raja memerintahkan pengawal kerajaan untuk mengintai apa gerangan yang telah dikerjakan oleh beliau di tempat itu. Maka dengan segera pengawal kerajaan melaksanakan perintah. Setelah diintai oleh pengawal kerjaan dilihat ternyata beliau sedang duduk diatas sejadah mengucap zikir dan tasbih serta bacaan-bacaan lainnya.
Setelah itu maka dikhabarkannya oleh pengawal kerajaan kepada baginda raja tentang hal keadaan beliau. “baik !”
kata baginda raja “ kalau begitu panggil dia seuruh menghadap kepada raja !”.
Setelah dipanggil datanglah beliau menghadapa baginda raja serta membawa selepang yang belum pernah ditinggal kemanapun beliau pergi.
Lalu ditanya oleh baginda raja” didalam salempang sampian itu apa isinya ?”
dijawab oleh baliau “ didalam salempang ini ada sebuah al-kitab.
Kata baginda raja “ bisakah diperlihatkan al-kitab itu pada kami ?”
“iya , bisa !” kata beliau.
Langsung beliau mambuka salempang dan menyerahkan al-kitab itu kepada baginda raja. Maka diterima oleh baginda raja dan diperiksa tentang isi alkitab itu dan tidak diceritakan tentang isi al-kitab itu. Langsung saja ke cerita baginda raja memohon kepada beliau untuk mengajarkan tentang isi al-kitab tersebut kepada baginda raja dan pengikut-pengikut lainnya.
Menurut cerita lima orang raja kambatang lima yang menjadi murid beliau termasuk beberapa orang lainnya.
Ringkas kata setelah beberapa lamanya beliau mengajarkan ilmu kepada baginda raja diwaktu itu tibalah saatnya beliau mengumpul semua muridnya,
Lalu beliau berwasiat sebagai berikut : wahai semua muridku kalau nanti sudah tiba saatnya Allah memanggil aku maka badanku dimakamkan di tempat kuburan Raja-raja. Tanganku dimakamkan di samping rumah. Yang sekarang ini disebut tiang ulin.
Kakiku dimakamkan di kersik hitam dekat dengan sungai sanduk
adapun kepalaku dimakamkan di kiburan muslimin tudalu namanya .
Ringkas cerita setelah beberapa bulan kemudian, Maka tibalah saatnya Allah memanggil beliau wafatlah beliau pada waktu itu. Nah setelah wafat, maka seorang raja yang bernama sultan Prabu Mangkuhina mengumpulkan semua murid beliau.
Setelah semua murid beliau hadir lalu baginda raja berkata : “ wahai saudara-saudaraku seperguruan ! kita sama-sama telah mengemban Amanah dari guru kita beberapa bulan yang lewat, sekarang tibalah saatnya Amanah itu harus kita laksanakan !” “ jadi diantara kalian semua ini siapa yang sanggup mamisah-misahkan jasad guru kita ini sesuai dengan amanah baliau ?” Tanya baginda raja.
Semua murid yang hadir menundukkan kepalanya dengan bercucuran air mata karena mengenang betapa beratnya untuk melaksanakan amanah ini. Akhirnya semuanya memutuskan tidak sanggup dan keputusannya di kembalikan kepada baginda raja.
Kata baginda raja “ kalau begitu, kita buat saja satu lobang pemakaman dulu, nanti kita lihat apa yang terjadi untuk selanjutnya.
Setelah lobang pemakaman hampir selesai, maka bersiaplah beberapa murid beliau untuk memandikan.
Ringkas cerita dimulai dengan perlahan-lahan mereka membuka kain tutup zenazah beliau setelah dibuka ternyata antara badan, kaki, tangan dan kepala beliau sudah berpisah dengan sendirinya. Nah disitulah keajaiban yang terjadi atas diri seorang wali, sehingga tenarlah beliau dikenal orang sebagai waliullah yang berpecah empat.
Yang sampai sekarang ini disebut KERAMAT BERPECAH EMPAT.
Adapun jasad beliau tadi dimandikan satu persatu dan dimakamkan satu persatu sesuai amanah beliau.
Badan dimakamkan di istana,
tangan di seberang istana yang sekarang di sebut Tiang Ulin
kaki di kersik hitam di hulu sungai sanduk.
Adapun kepala dimakamkan dikuburan muslimin tudalu sampanahan.
Sekian riwayat singkat seorang wali yang berpecah emapat yang dimakamkan di wilayah sampanahan. Nah kiranya mohon ampun dan maaf atas kesalahan dan kekurangan cerita riwayat ini. Karena riwayat ini dipetik dari cerita orang tua yang terdahulu, berpindah dari mulut ke mulut sehingga sampai kepada penulis cerita riwayat ini.
WALLAHU A’LAM BISSAWAB !”


Sekian Wassalam
Sumber cerita
Gusti Masbur (batu Ganting)
Gusti Satar ( Sampanahan)
M. Syafi’I (Sampanahan) Penulis 1.